Malangpariwara.com – Budidaya ikan lele tak cukup hanya mengandalkan pengamatan visual. Ketepatan mengetahui bobot ikan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan, menentukan kebutuhan pakan, sekaligus memperkirakan waktu panen.
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang (Polinema) memperkenalkan teknologi timbangan digital berbasis *Internet of Things* (IoT) di Peternakan Barokah, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk **Pemberdayaan Peternak: Digitalisasi Monitoring Bobot sebagai Indikator Kesehatan Ikan Lele**, tim Polinema mendorong pengelolaan budidaya yang lebih terukur dan berbasis data.
Program yang didanai melalui DIPA Polinema Tahun 2026 ini dilaksanakan pada November 2026 dengan melibatkan pengelola dan pekerja Peternakan Barokah.
Kegiatan tersebut diketuai Rieke Adriati Wijayanti bersama enam dosen dari berbagai bidang keahlian, meliputi teknik elektro, teknik pengaturan, telekomunikasi, informatika, dan matematika, serta didukung lima mahasiswa.
Inovasi ini menyasar persoalan mendasar yang selama ini dihadapi Peternakan Barokah. Dengan 25 kolam dan produksi rata-rata sekitar 1.000 kilogram setiap siklus, usaha budidaya tersebut belum memiliki peralatan penimbang ikan. Akibatnya, perkembangan bobot lele hanya diperkirakan melalui pengamatan visual tanpa pencatatan data secara berkala.
Padahal, bobot ikan merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui pertumbuhan dan mendeteksi kemungkinan gangguan kesehatan. Data tersebut juga menjadi dasar menghitung biomassa kolam dan menentukan kebutuhan pakan agar pemberiannya tidak berlebihan maupun kurang.
**Ubah Pola Budidaya dari Perkiraan Menjadi Berbasis Data**
Untuk mengatasi persoalan itu, tim Polinema menerapkan pendekatan alih teknologi tepat guna secara partisipatif. Tahapannya meliputi analisis kebutuhan mitra, perancangan dan pengadaan peralatan, instalasi, pengujian fungsi, pelatihan, pendampingan, hingga evaluasi.

Tim menyerahkan satu unit timbangan digital platform berbasis IoT yang dilengkapi fitur *tare* atau pengaturan berat nol. Perangkat tersebut juga dilengkapi keranjang penimbangan berlubang agar air dapat menetes sehingga proses penimbangan lebih praktis dan ikan tetap aman.
Tak hanya menyerahkan perangkat, tim juga menyediakan standar operasional prosedur (SOP) penimbangan dan format *logsheet* untuk mencatat bobot ikan berdasarkan tanggal dan masing-masing kolam.
Pengelola dan pekerja Peternakan Barokah kemudian mendapatkan pelatihan mulai dari teknik pengambilan sampel ikan, penggunaan fitur *tare*, pembacaan angka pada layar digital, hingga pencatatan hasil penimbangan.
Mitra juga dibekali kemampuan mengolah data bobot menjadi informasi yang lebih bermanfaat, seperti bobot rata-rata ikan, pertambahan bobot, perkiraan biomassa kolam, serta kebutuhan pakan harian berdasarkan persentase biomassa.
Salah satu pengelola Peternakan Barokah, Mahbub Hasani, mengakui kehadiran teknologi tersebut mempermudah pekerjaan sekaligus meningkatkan ketepatan pemantauan pertumbuhan ikan.
“Dengan adanya timbangan digital ini, proses penimbangan ikan lele menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien. Sekarang kami bisa mencatat bobot ikan di setiap kolam secara rutin,” ujar Rieke.
**Berpotensi Tekan Pemborosan Pakan 5–10 Persen**
Hasil penerapan teknologi menunjukkan timbangan digital berfungsi dengan baik dan sudah dapat dioperasikan secara mandiri oleh mitra. Peternak juga mulai melakukan penimbangan sampel secara berkala serta mencatat perkembangan bobot ikan di setiap kolam.
Data tersebut selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk menyesuaikan jumlah pakan dan memperkirakan waktu panen. Dengan demikian, pengelolaan budidaya yang sebelumnya bertumpu pada perkiraan mulai bergeser menuju sistem yang lebih terukur berdasarkan data aktual.
Dalam jangka menengah, penerapan penyesuaian pakan berbasis data ini diharapkan mampu menekan pemborosan pakan sekitar 5–10 persen sekaligus meningkatkan ketepatan prediksi waktu panen.
Tim Polinema berharap program tersebut tidak berhenti pada penyerahan peralatan. Evaluasi data bobot bersama mitra setelah satu siklus budidaya menjadi langkah lanjutan untuk mengukur efektivitas teknologi yang diterapkan.
Ke depan, pengembangan juga diarahkan pada pengiriman data bobot secara otomatis melalui fitur IoT serta integrasi dengan sistem pemantauan kualitas air kolam. Teknologi ini diharapkan dapat direplikasi pada pembudidaya lele lainnya di sekitar lokasi mitra.
Melalui inovasi tersebut, Polinema mendorong peternak lele skala usaha rakyat agar tidak lagi mengandalkan perkiraan dalam mengambil keputusan. Sebab, ketepatan data pertumbuhan ikan bukan hanya menyangkut kesehatan lele, tetapi juga efisiensi pakan dan keberlanjutan usaha budidaya.(Djoko W)






