Malangpariwara.com – Sebanyak 67 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.
Pencapaian ini tergolong istimewa, karena mereka berhasil menyisihkan sekitar 81.000 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Salah satu mahasiswa terpilih, Rafif Izdihar Dinta dari Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), mengungkapkan bahwa proses seleksi berlangsung ketat dan berlapis.
Tahapannya dimulai dari seleksi administrasi, dilanjutkan dengan wawancara mandiri (self-recorded interview) yang menguji kemampuan komunikasi serta ide inovatif dalam pemanfaatan teknologi Google, hingga tahap Gemini Challenge.
“Proses seleksinya cukup panjang dan menantang. Kami diuji tidak hanya dari kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir dan menyampaikan ide,” ujar Rafif.
Pengalaman serupa juga dirasakan Muhammad Alif Albana Abzar dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Bagi Alif, ketertarikannya mengikuti program ini tidak hanya untuk memperluas jaringan dan meningkatkan keterampilan, tetapi juga dilandasi kegelisahan terhadap cara masyarakat berinteraksi dengan derasnya arus informasi digital.
“Teknologi saat ini sering disalahgunakan. Saya ingin membawa pendekatan yang lebih reflektif, agar kita bisa menemukan makna di balik arus informasi tersebut,” kata Alif.
Ia menekankan bahwa teknologi seharusnya tidak sekadar menjadi alat eksploitasi, melainkan ruang yang memberi makna dan nilai bagi setiap individu. Alif juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri dalam proses belajar.
“Kalau kita sampai kehilangan jati diri saat menggunakan teknologi, itu berarti kita sudah melewati batas,” tambahnya.
Meski berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda, Rafif dan Alif sepakat bahwa kecerdasan buatan (AI) hanyalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.
Rafif mencontohkan penggunaan fitur Gemini Deep Research yang membantunya dalam memahami teori dan menemukan celah penelitian sebelum melakukan praktikum di laboratorium.
“Fitur ini sangat membantu dalam memperdalam kajian literatur sebelum praktik,” jelasnya.
Ke depan, para Google Student Ambassador UB berencana mengadakan berbagai program edukatif dan aplikatif agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif.

Sementara itu, Google Education Specialist, Arija Rose Wanodya, menjelaskan bahwa program GSA merupakan inisiatif Google untuk membangun ekosistem digital yang kuat di lingkungan kampus.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan kecakapan teknologi dan mendorong inovasi digital di kalangan mahasiswa, sekaligus mendukung pengembangan kapasitas jangka panjang mereka,” ujarnya.
Rose menegaskan bahwa dalam proses seleksi, Google tidak hanya melihat kemampuan teknis, tetapi juga semangat belajar dan rasa ingin tahu peserta.
“Kami tidak mensyaratkan harus mahir teknologi sejak awal. Yang utama adalah kemauan untuk belajar dan mencoba hal baru,” tegasnya.
Menurutnya, program ini terbuka untuk semua jurusan karena pemahaman teknologi kini menjadi kebutuhan lintas bidang, termasuk di ranah sosial humaniora.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, mengembangkan jiwa kepemimpinan, serta menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif di lingkungan sekitarnya.
“Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari perubahan,” pungkas Rose.(Djoko W)






