Malangpariwara.com – SMK PGRI 3 Malang resmi membuka rangkaian Kegiatan Cinta Sekolah (KCS) ke-39 atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 melalui apel pembukaan yang digelar di halaman Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (2/7/2026).

Sebanyak 987 peserta didik baru mengikuti kegiatan yang tahun ini mengusung tema “Garda Swarna” dengan semangat membentuk generasi muda yang berkarakter, kompeten, dan siap menyongsong Indonesia Emas.
Apel pembukaan berlangsung meriah dan dihadiri Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang Frenky Minggaryana Dwi Putra yang secara resmi membuka kegiatan.
Turut hadir Ketua Perwakilan YPLP PGRI Kota Malang Drs. Anton Henawanto, M.Pd., Ketua PGRI Kota Malang Agus Wahyudi, S.Pd., M.Pd., Kepala Biro Administrasi Kelembagaan, Publikasi, dan Teknolog – Informasi (BAKPTI) di Universitas Islam Malang (UNISMA), Kapolsek Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta, Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang Frenky Minggaryana Dwi Putra, serta Kepala SMK PGRI 3 Malang, Dr. Moch. Lukman Hakim, S.T., M.M.
Prosesi pembukaan diawali penampilan Tari Nusantara dan parade bendera dari seluruh program keahlian yang dibawakan tim Paskibra sekolah.
Suasana semakin semarak saat para siswa baru menunjukkan semangat kebersamaan sebagai simbol dimulainya perjalanan mereka menjadi bagian dari keluarga besar SMK PGRI 3 Malang.
Kepala SMK PGRI 3 Malang, Moch. Lukman Hakim, menjelaskan bahwa tema Garda Swarna dipilih sebagai representasi lahirnya generasi muda yang siap berada di garis terdepan sebagai pelopor perubahan.
“Garda melambangkan Skariga Muda yang siap menjadi garda terdepan, sedangkan Swarna, yang berarti emas dalam bahasa Sanskerta, menggambarkan kejayaan, kemurnian niat, kesuksesan, dan cita-cita luhur menuju Indonesia Emas,” ujarnya.

Menurut Lukman, pendidikan di SMK PGRI 3 Malang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pembentukan karakter, moral, kepemimpinan, serta nilai-nilai kebangsaan agar lulusan mampu menghadapi tantangan dunia kerja dan perkembangan teknologi.
Ia mengungkapkan, tingginya jumlah peserta didik baru menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap SMK PGRI 3 Malang yang terus meningkat.
Tahun ini, siswa baru tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, tetapi juga dari 18 provinsi di Indonesia.
“Kami berharap anak-anak menjadi garda terdepan yang memiliki jiwa emas menuju Indonesia Emas. Mereka harus memiliki kompetensi, baik hard skill maupun soft skill, sesuai visi sekolah untuk melahirkan lulusan yang berakhlakul karimah dan menjadi yang terbaik di Indonesia,” katanya.
Salah satu prosesi yang paling menarik perhatian dalam apel pembukaan adalah ritual penuangan air oleh Kepala SMK PGRI 3 disaksikan para tamu undangan ke dalam wadah yang dibawa perwakilan peserta KCS sekaligus ke atas sebuah kanvas putih.
Prosesi tersebut mengandung makna mendalam. Air menjadi simbol ilmu pengetahuan, doa, restu, dan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan para pendidik kepada generasi muda.

Sementara kanvas putih melambangkan peserta didik sebagai pribadi yang siap dibentuk melalui proses pendidikan.
Perlahan, saat air mengalir di atas kanvas, muncul tulisan “Garda Swarna”, menggambarkan bahwa setiap siswa sejatinya telah memiliki potensi yang akan terus diasah selama menempuh pendidikan di SMK PGRI 3 Malang.
“Anak-anak datang seperti kanvas yang masih putih. Selama belajar di sini mereka akan diwarnai dengan ilmu, karakter, pengalaman, dan budaya kerja hingga akhirnya lulus menjadi generasi terbaik,” tutur Lukman.
Usai apel pembukaan, seluruh peserta mengikuti kegiatan pengembaraan dari halaman Unisma menuju kampus SMK PGRI 3 Malang dengan membawa bendera masing-masing program keahlian serta Bendera Merah Putih.
Kegiatan tersebut didampingi guru dan karyawan sekolah sebagai bagian dari pembelajaran karakter yang menanamkan disiplin, kerja sama, gaya hidup sehat, dan kepedulian sosial.
Sesampainya di sekolah, para peserta langsung mengikuti kegiatan gemba di bengkel setiap program keahlian.
Melalui kegiatan ini siswa dikenalkan dengan lingkungan belajar, fasilitas praktik, budaya industri, hingga kompetensi yang akan dipelajari pada masing-masing jurusan oleh kepala bidang, kepala bengkel, dan teknisi.
Selama pelaksanaan KCS, setiap siswa baru juga mendapat pendampingan dari wali KCS yang bertugas memberikan arahan, motivasi, sekaligus membantu proses adaptasi agar seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan nyaman.
Tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah, KCS 2026 juga menghadirkan berbagai materi pembinaan mental, karakter, budaya industri, hingga wawasan kebangsaan.
Sekolah menggandeng sejumlah instansi sebagai narasumber, di antaranya Polresta Malang Kota, Badan Narkotika Nasional (BNN), Kejaksaan Negeri Malang, serta Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Para siswa akan memperoleh edukasi mengenai tertib berlalu lintas, pencegahan penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, kesadaran hukum, serta perlindungan hak anak.
Selain itu, SMK PGRI 3 Malang juga bekerja sama dengan Universitas Islam Malang untuk memberikan motivasi kepada siswa yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, sekolah juga meluncurkan program pembagian 1.000 tumbler kepada masyarakat Malang Raya.
Program ini mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai sekaligus membangun budaya ramah lingkungan di kalangan pelajar.
“Pemberian tumbler ini kami harapkan menjadi kebiasaan baru bagi siswa agar tidak lagi bergantung pada botol plastik sekali pakai. Sekolah juga telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk mewujudkan budaya tersebut,” jelas Lukman.
Melalui KCS 2026 bertema Garda Swarna, SMK PGRI 3 Malang berharap mampu mencetak generasi Skariga yang unggul dalam kompetensi kejuruan, memiliki karakter kuat, berjiwa kepemimpinan, berakhlakul karimah, serta siap menghadapi dinamika dunia kerja dan perkembangan teknologi sebagai bekal mewujudkan Indonesia Emas.

Sementara Perwakilan Bidang Pembinaan Sekolah Kejuruan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Frenky Minggaryana Dwi Putra menegaskan bahwa penguatan karakter di lingkungan sekolah menjadi kunci utama dalam meningkatkan motivasi belajar sekaligus kompetensi peserta didik.
Menurutnya, salah satu contoh praktik baik (best practice) yang layak diapresiasi adalah penerapan program di SMK PGRI 3 Malang yang berhasil menumbuhkan kecintaan siswa terhadap sekolah.
Frenky menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan sekolah yang mampu membangun budaya positif sehingga berdampak pada peningkatan sikap, karakter, serta kompetensi keterampilan siswa yang terukur.
“Praktik baik di SMK PGRI 3 Malang ini diharapkan dapat menjadi role model yang bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah lain. Namun, penerapannya tentu harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sekolah, karena setiap satuan pendidikan memiliki keunikan dan tantangan yang berbeda,” ujarnya.
Selain menyoroti prestasi akademik dan keterampilan, Frenky juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak melalui optimalisasi peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
Menurutnya, seluruh sekolah perlu kembali mengaktifkan dan memperkuat fungsi TPPK sebagai upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan, termasuk perundungan (bullying).
Ia menjelaskan, TPPK memiliki peran strategis dalam memberikan pendampingan kepada siswa serta melakukan penanganan secara cepat ketika terjadi suatu permasalahan. Dengan demikian, potensi konflik maupun tindakan perundungan dapat diminimalkan sejak dini.
“Secara umum, lingkungan pendidikan di Kota Malang saat ini relatif aman dan kondusif. Meski demikian, mekanisme respons cepat melalui TPPK tetap sangat diperlukan agar iklim belajar yang aman dan nyaman dapat terus terjaga demi mendukung tumbuh kembang peserta didik,” pungkas Frenky.(Djoko W)










