BLITAR , 1 Juli 2026
Malangpariwara.com – Bagi sebagian besar umat Islam, ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual untuk menyempurnakan rukun Islam. Namun, bagi pasangan suami istri, perjalanan menuju Tanah Suci juga menghadirkan makna yang lebih dalam.
Di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara, haji menjadi ruang untuk menguji kesabaran, menguatkan kebersamaan, sekaligus menemukan kembali makna cinta yang tumbuh dalam balutan ibadah.

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Hj. Khusna Lindarti, yang menunaikan ibadah haji bersama suaminya, H. Bambang Priyadi.
Saat ditemui di kediamannya di Tegal Rejo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, Rabu (1/7/2026), Khusna mengisahkan bagaimana perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar menjalankan rangkaian ibadah, tetapi juga menjadi proses mempererat hubungan sebagai pasangan hidup.
Menurutnya, banyak orang membayangkan ibadah haji sebagai perjalanan yang penuh ketenangan. Padahal, di balik kekhusyukan itu terdapat berbagai tantangan yang menguji fisik, mental, hingga emosi.
Cuaca ekstrem, padatnya aktivitas ibadah, serta lautan manusia yang memenuhi setiap sudut Tanah Suci menuntut pasangan memiliki kesabaran dan komunikasi yang baik.
“Suami itu memang semangatnya berbeda. Tetapi sebagai pasangan, kita tidak hanya punya misi untuk sampai ke Tanah Suci saja, melainkan bagaimana semuanya bisa dilakukan bersama-sama, saling mendampingi, dan menikmati perjalanan ibadah itu bersama,” tutur Khusna.
Ia menilai, haji menjadi momentum terbaik untuk melihat sejauh mana pasangan mampu saling memahami. Dalam kondisi lelah sekalipun, suami dan istri dituntut menjadi penyemangat, bukan justru memperbesar persoalan akibat emosi sesaat.
Bagi Khusna, ujian terbesar justru dirasakan saat berada di Madinah. Tidak semua pasangan dapat selalu bersama karena pengaturan akomodasi maupun kondisi di lapangan. Meski berada di hotel yang sama, mereka kerap harus menjalani aktivitas secara terpisah.
“Di Madinah itu tantangannya besar. Tidak mungkin selalu sekamar, meskipun satu hotel. Untuk janjian bertemu saja kadang sulit karena situasi yang berbeda. Itu menjadi ujian tersendiri agar tetap bisa bersama dan saling menjaga komunikasi,” ujarnya.
Situasi tersebut, lanjut Khusna, mengajarkan pentingnya rasa percaya kepada pasangan. Komunikasi sederhana, saling mengabari kondisi, hingga saling mendoakan menjadi cara menjaga ketenangan hati ketika tidak bisa selalu berdampingan.
Berbeda dengan Madinah, pengalaman di Makkah justru menghadirkan suasana yang lebih hangat. Kesempatan berjalan bersama menuju Masjidil Haram, melaksanakan tawaf berdampingan, berdoa di depan Ka’bah, hingga menunaikan salat berjamaah menjadi momen yang tak akan pernah terlupakan.
“Kalau di Makkah masih sangat mungkin untuk selalu bersama. Bisa tawaf bersama, berjalan ke masjid bersama, dan melakukan ibadah dengan lebih leluasa. Itu menjadi momen yang sangat indah dan, kalau boleh dibilang, lebih romantis karena semuanya dilakukan atas dasar ibadah kepada Allah,” katanya sambil tersenyum.
Romantisme yang dimaksud, menurut Khusna, bukanlah kemewahan ataupun ungkapan kasih sayang yang berlebihan.
Justru perhatian-perhatian kecil memiliki makna yang jauh lebih besar. Menunggu pasangan selesai beribadah, memastikan kondisi kesehatannya, membawa barang bawaan, hingga saling mengingatkan waktu istirahat menjadi bentuk cinta yang nyata selama menjalankan ibadah haji.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika jalur keluar jamaah laki-laki dan perempuan dipisahkan. Saat itu ia membawa sepatu milik suaminya sambil menunggu di titik pertemuan yang telah disepakati.
Di sela-sela penantian itu, pandangannya tertuju kepada banyak jamaah yang larut dalam doa. Tangis haru terdengar dari berbagai sudut pelataran masjid.
Pemandangan tersebut membuat dirinya ikut hanyut dalam kekhusyukan, memanjatkan doa-doa terbaik dengan penuh penghayatan.
“Saya melihat orang-orang menangis saat berdoa. Saya berpikir, saya juga ingin berdoa seperti mereka. Saya pun berdoa kepada Allah dengan khusyuk, karena memang pintu laki-laki dan perempuan terpisah,” kenangnya.
Usai berdoa, sebuah peristiwa sederhana justru menjadi kenangan yang paling berharga. Dari kejauhan, ia melihat sosok suaminya melihat dirinya, Spontan Khusna melambaikan tangan sebagai tanda telah menemukan suaminya.
“Dari kejauhan saya melihat suami mensongakkan kepalanya kearah saya. Saya apontan memberi tanda melambaikan tangan. Rasanya bahagia sekali, seperti mendapatkan jawaban atas doa yang baru saja dipanjatkan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Khusna, momen singkat itu menjadi simbol bahwa dalam setiap ujian akan selalu ada pertemuan kembali bagi pasangan yang saling menjaga kepercayaan dan kesabaran.
Kebersamaan dalam berhaji bukan berarti harus selalu berjalan berdampingan, melainkan memiliki keyakinan bahwa keduanya akan saling menguatkan dalam setiap keadaan.
Dari seluruh pengalaman tersebut, Khusna menyimpulkan bahwa kekompakan merupakan kunci utama menjalani ibadah haji bersama pasangan.
Niat yang sama, komunikasi yang baik, serta kemampuan memahami kekurangan masing-masing menjadi bekal penting agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan penuh keikhlasan.
Ia berharap kisah yang dialaminya dapat menjadi inspirasi bagi pasangan lain yang bersiap menunaikan ibadah haji.
Persiapan menuju Tanah Suci, menurutnya, tidak hanya menyangkut kesiapan fisik, administrasi, maupun finansial, tetapi juga kesiapan mental untuk saling menguatkan ketika menghadapi berbagai ujian selama beribadah.
“Yang paling penting adalah niat bersama, saling menguatkan, dan memahami bahwa semua ujian selama berhaji adalah cara Allah mendewasakan dan mempererat hubungan kita sebagai pasangan,” pungkasnya.
Di balik jutaan langkah jamaah yang mengelilingi Ka’bah, tersimpan kisah-kisah sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Kisah tentang tangan yang saling menggenggam saat lelah, doa yang dipanjatkan untuk pasangan, hingga senyum bahagia ketika kembali dipertemukan setelah terpisah oleh kerumunan.
Bagi Hj. Khusna Lindarti, itulah makna romantisme sejati di Tanah Suci. Bukan romantisme yang lahir dari kemewahan, melainkan dari kesabaran, keikhlasan, perhatian, dan kebersamaan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Sebuah perjalanan spiritual yang bukan hanya menyempurnakan rukun Islam, tetapi juga memperkokoh ikatan cinta yang akan terus dikenang sepanjang hayat.(Djoko W)






