Malangpariwara.com – Limbah organik rumah tangga yang selama ini kerap berakhir di tempat pembuangan sampah ternyata dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.
Gagasan tersebut diperkenalkan dosen dan mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (Fakultas STeM) Universitas Brawijaya (UB) kepada masyarakat Kelurahan Pandanwangi, Kota Malang, melalui program pengabdian kepada masyarakat berbasis eco enzim.
Kegiatan yang digelar pada Sabtu (27/6/2026) itu menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kompartemen Biokimia Departemen Kimia UB bertema Pemanfaatan Eco Enzim dari Limbah Organik untuk Mendukung Produk Ramah Lingkungan dan Ekonomi Sirkular Masyarakat.
Program dipimpin oleh Dr. Arie Srihardyastutie dan melibatkan 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajak mengenal cara mengolah limbah organik menjadi eco enzim yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk, seperti sabun cair ramah lingkungan, telur asin, hingga tepache, minuman hasil fermentasi dari kulit nanas.
Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang usaha berbasis ekonomi sirkular.
Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Pandanwangi, Dewi Citra Larasati, S.AP., M.Si., menyambut baik kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan masyarakat. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung oleh warga.
“Program ini sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mandiri dalam mengelola lingkungan sekaligus memperoleh peluang usaha baru,” ujarnya.
Selain menjadi bentuk pengabdian dosen kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran bagi mahasiswa KKN.
Selama pelaksanaan KKN berbobot empat SKS yang berlangsung pada 22 Juni hingga 18 Juli 2026, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan ilmu kimia yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam menerapkan teknologi sederhana yang mudah diadopsi di tingkat rumah tangga.
Koordinator KKN, Achmad Ali Imron Rahmatulloh, mengatakan pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami persoalan riil yang dihadapi masyarakat sekaligus menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
“Selama tiga minggu ke depan kami akan terus melakukan monitoring dan evaluasi agar program ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” katanya.
Pelatihan berlangsung interaktif melalui penyampaian materi, demonstrasi pembuatan eco enzim, praktik langsung peserta, hingga diskusi mengenai teknik fermentasi dan peluang pengembangan usaha berbasis limbah organik.
Antusiasme warga terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi praktik maupun tanya jawab.
Ketua tim pengabdian, Dr. Arie Srihardyastutie, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim dosen bersama mahasiswa akan terus melakukan pendampingan hingga pertengahan Juli agar masyarakat mampu mengembangkan produk turunan eco enzim secara mandiri.
Menurutnya, keberlanjutan menjadi fokus utama sehingga teknologi sederhana tersebut benar-benar dapat diterapkan dan memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Departemen Kimia Fakultas STeM UB berharap kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik semakin meningkat.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, PKK, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan inovasi yang mendukung pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui produk-produk ramah lingkungan.(Djoko W)






