Mentan Amran di UMM: Mahasiswa Harus Belajar dari Kerugian untuk Membangun Bisnis yang Tahan Banting

Malangpariwara.com – Pesan yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., kepada ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdengar tidak biasa.

Di tengah semangat membangun bisnis yang identik dengan mengejar keuntungan, Amran justru menegaskan bahwa kerugian merupakan guru terbaik bagi seorang pengusaha.

Gagasan tersebut disampaikan saat membuka Studentpreneur Bootcamp 2026 yang digelar Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (MCEBI PTMA) di Aula GKB IV UMM, Jumat (17/7/2026).

Di hadapan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Amran mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap dunia usaha.

Menurutnya, kampus memang membekali teori, tetapi dunia bisnis menghadirkan realitas yang jauh lebih kompleks. Karena itu, calon wirausahawan harus siap menghadapi kegagalan, tekanan, bahkan kerugian sebelum menikmati keberhasilan.
Pandangan itu mengemuka ketika sesi dialog berlangsung.

Seorang peserta yang juga pengusaha mebel asal Jepara mengeluhkan persaingan harga yang semakin ketat.

Alih-alih memberikan strategi agar usahanya cepat memperoleh keuntungan, Amran justru menyampaikan doa yang mengejutkan.

Ia berharap mahasiswa tersebut terlebih dahulu merasakan kerugian agar memiliki mental bertarung yang kuat.

Menurutnya, pengalaman kehilangan justru menjadi proses pembelajaran paling berharga yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.

“Tidak diajari di kampus seluruh dunia untung. Satu tambah satu dua, dua tambah dua empat. Semua untung, indah. Tidak seindah dengan kenyataan. Jadi harus diajari rugi. Yang mengajari rugi adalah lapangan,” tegas Amran.

Menurutnya, banyak mahasiswa memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi belum tentu siap menghadapi tekanan ketika bisnis mengalami penurunan.

Padahal, kemampuan bangkit setelah mengalami kegagalan menjadi pembeda utama antara pengusaha yang bertahan dengan mereka yang berhenti di tengah jalan.

Amran kemudian mengibaratkan proses membangun mental pebisnis seperti latihan pasukan khusus militer.

Seorang prajurit harus berlatih berkali-kali, menghabiskan ribuan peluru, dan melewati berbagai simulasi berat hingga memiliki insting yang tajam.

Demikian pula seorang pengusaha, harus terbiasa menghadapi kerugian agar mampu mengambil keputusan secara matang ketika bisnis berkembang.

“Kalau Anda terbiasa terlatih rugi lima tahun, sepuluh tahun, begitu untung, itu Anda untung sampai anak cucumu. Dan guru terbaikmu adalah rugi,” ujarnya.

Bagi Amran, keberhasilan yang dibangun melalui proses panjang akan menghasilkan fondasi usaha yang lebih kuat dibanding keuntungan yang datang secara instan.

Pengalaman menghadapi kerugian akan melatih kemampuan membaca pasar, mengelola risiko, membangun relasi, hingga menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Rektor UMM bersama mahasiswa UMM di Stan UMKM .(Djoko W)

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menilai pesan tersebut sejalan dengan visi kampus dalam membangun ekosistem kewirausahaan.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausahawan muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki daya juang tinggi untuk menjawab tantangan di sektor strategis, terutama ketahanan pangan dan energi.

Ia mengatakan, pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam proses inkubasi bisnis yang terus dikembangkan UMM bersama MCEBI.

“Ini nanti akan menjadi modal penting bagi Muhammadiyah untuk terus menanamkan tekad kuat melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru bagi bangsa melalui program-program inkubasi,” katanya.

Ketua MCEBI, Dr. Endang Rudiatin, M.Si.(Djoko W)

Sementara itu, Ketua MCEBI, Dr. Endang Rudiatin, M.Si., menjelaskan bahwa Studentpreneur Bootcamp tidak hanya berorientasi pada penciptaan keuntungan ekonomi.

Program tersebut dirancang untuk melahirkan pengusaha muda yang memiliki etika bisnis, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mampu menjalankan usaha yang berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan.

Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali perspektif bahwa keberhasilan bisnis bukan semata diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat dan keberlangsungan alam.

Mentan mengunjungi stan Inovasi Bisnis Universitas Muhammadiyah dan Aisyiah.(Djoko W)

Melalui bootcamp ini, MCEBI berharap lahir generasi entrepreneur yang tidak terjebak pada pola pikir serba instan maupun hanya mengandalkan kecerdasan akademik.

Mahasiswa didorong berani memulai dari bawah, meninggalkan gengsi, serta menjadikan setiap kegagalan sebagai proses pembentukan karakter.

Pesan yang dibawa Mentan Amran pun menjadi penegasan bahwa dalam dunia usaha, keuntungan bukanlah titik awal, melainkan hasil dari proses panjang yang ditempa oleh keberanian menghadapi kerugian, konsistensi belajar, dan ketangguhan mental.

Bagi mahasiswa yang bercita-cita menjadi pengusaha, keberhasilan tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari kemampuan bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.(Djoko W)