Kisah Alumni UB: Satu Pertanyaan yang Menyelamatkan Nyawa

MALANGPARIWARA.COM – Sore perlahan beranjak menuju malam. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, sementara arus kendaraan masih ramai melintasi kawasan Jembatan Soekarno-Hatta, Kota Malang.

Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang perempuan berdiri di tepi jembatan. Tatapannya kosong.

Sesekali ia menunduk dan melihat ke arah bawah jembatan. Tak banyak orang menyadari bahwa di balik diamnya, perempuan tersebut tengah menghadapi pergulatan yang berat.

Namun, sore itu ada seseorang yang memilih untuk berhenti.

Dia adalah Joya Sarah, alumni Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2022.

Biasanya Joya pulang menggunakan ojek online. Namun, hari itu ia memilih berjalan kaki menuju kos.

Keputusan sederhana yang awalnya tidak memiliki arti khusus, ternyata menjadi titik penting dalam sebuah kisah kemanusiaan.

Saat berjalan, Joya melihat perempuan tersebut dari jarak sekitar 50 meter. Gerak-geriknya menarik perhatian.

“Aku lihat gerak-geraknya sudah aneh dari jauh. Kelihatan gelisah, terus beberapa kali melihat ke bawah. Dari situ aku merasa ada yang tidak beres,” cerita Joya.

Langkahnya pun terhenti. Alih-alih meneruskan perjalanan, Joya memilih mendekati perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tanpa membawa nasihat panjang atau mencoba menerka persoalannya, Joya hanya mengucapkan satu kalimat sederhana.

“Are you okay?”

Pertanyaan pendek itu ternyata membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat.

Perempuan tersebut langsung menangis. Dalam tangisnya, ia mengaku sudah memiliki niat untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan.

“Aku kira dia bakal jawab, ‘Aku nggak apa-apa.’ Ternyata dia langsung nangis. Saat itu aku baru tahu kalau dia memang sedang tidak baik-baik saja,” ujar Joya.

Joya tidak mencoba menghakimi ataupun memaksakan solusi. Ia memilih melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana: mendengarkan.

Ia membiarkan perempuan tersebut mengeluarkan seluruh emosi dan ceritanya. Joya tetap berada di sampingnya, memberikan ruang untuk berbicara tanpa tekanan.

Ketika suasana mulai sedikit tenang, Joya menawarkan pelukan.

“Dia lagi butuh seseorang yang mau menemani. Jadi aku cuma berusaha ada di sampingnya dan menawarkan pelukan,” katanya.

Pelukan itu berlangsung cukup lama. Di tengah suasana tersebut, seseorang yang melintas sempat merekam momen keduanya. Video itu kemudian menyebar luas di media sosial.

Pujian pun berdatangan kepada Joya. Namun, perhatian publik bukanlah hal yang ia pikirkan ketika berada di jembatan tersebut.

“Yang aku pikirkan waktu itu cuma satu, gimana caranya supaya dia tetap bertahan,” ucapnya.

Tak lama kemudian, seorang pejalan kaki mengingatkan keduanya agar tidak berdiri terlalu dekat dengan tepi jembatan. Joya melihat kesempatan itu sebagai jalan untuk mengajak perempuan tersebut meninggalkan lokasi yang berbahaya.

Dengan sabar ia membujuk hingga akhirnya perempuan itu bersedia berpindah ke tempat yang lebih aman, sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari jembatan.

Di tempat tersebut, percakapan berlanjut. Joya kembali mendengarkan. Tidak terburu-buru memberikan penilaian, apalagi menyalahkan.

Perlahan, emosi perempuan itu mulai mereda.

Sebelum berpisah, Joya memastikan kondisinya jauh lebih baik dibandingkan ketika pertama kali mereka bertemu.

“Memang belum langsung pulih, tapi aku melihat dia sudah bisa berpikir lebih tenang. Itu yang membuatku akhirnya merasa cukup lega,” ungkapnya.

Bagi Joya, pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah peristiwa yang kemudian viral.

Ia semakin percaya bahwa kepedulian, sekecil apa pun bentuknya, dapat memberikan dampak besar bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah kehidupannya.

“Kita nggak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain. Kadang yang mereka butuhkan bukan solusi, tapi seseorang yang mau mendengar dan menemani,” tuturnya.

Ada satu hal lain yang membuat Joya semakin memaknai peristiwa tersebut. Ia percaya pertemuan itu bukan sekadar kebetulan.

Biasanya ia pulang menggunakan ojek online. Namun, sore itu entah mengapa ia memilih berjalan kaki.

“Aku percaya itu memang waktu Tuhan. Kalau hari itu aku tidak jalan kaki, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya,” katanya sambil tersenyum.

Kisah Joya menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Tidak harus mengenal seseorang terlebih dahulu. Tidak harus memiliki jawaban atas semua persoalan.

Terkadang, cukup berhenti sejenak ketika melihat seseorang sedang tidak baik-baik saja.

Menyapa. Mendengarkan. Menemani.

Dan sebuah pertanyaan sederhana—“Are you okay?”—bisa menjadi awal dari keputusan seseorang untuk bertahan.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kisah seorang alumni Universitas Brawijaya ini menunjukkan bahwa menjadi manusia yang peduli terkadang sesederhana memilih untuk tidak berjalan begitu saja.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *