Malangpariwara.com – Ijazah saja tidak cukup untuk menembus persaingan dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kompetensi, integritas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menghadirkan solusi di tengah perubahan teknologi dan tantangan global.
Pesan tersebut mengemuka dalam kuliah tamu Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) bertajuk “Transformasi SDM Pertanian: Membangun Generasi Unggul, Adaptif, dan Berdaya Saing Global”, Jumat (16/10/2026).
Hadir sebagai pemateri, Anom Surahno, S.H., M.Si., Fungsional Asesor SDM Aparatur Ahli Utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mengingatkan mahasiswa tingkat akhir agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan nilai dan menawarkan solusi bagi berbagai persoalan.
Menurut Anom, perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, hingga tantangan ketahanan pangan menuntut sumber daya manusia pertanian memiliki kemampuan yang terus berkembang.
Penguasaan ilmu akademik harus diimbangi keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi data, komunikasi, dan kolaborasi.
“Mahasiswa perlu mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi individu yang mampu menciptakan nilai dan menawarkan solusi,” tegasnya.
Kompetensi Harus Berjalan Seiring Integritas
Dekan FBiPK UB, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., menilai pengalaman Anom di bidang pemerintahan dan penilaian kompetensi aparatur menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami tuntutan dunia profesional.
Prof. Mangku mengungkapkan, dirinya telah mengenal Anom sejak masa mahasiswa, ketika keduanya kerap turun ke jalan menyuarakan aspirasi masyarakat. Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa perjalanan seseorang dapat berkembang dari aktivitas kemahasiswaan menuju peran profesional yang lebih luas.
Ia menegaskan, kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup dibangun melalui capaian akademik. Mahasiswa juga perlu memperkuat integritas, kompetensi, dan keberanian menghadapi tantangan agar mampu bersaing sekaligus memberi kontribusi nyata.
Anom menjelaskan, pengembangan sumber daya manusia pertanian bertumpu pada tiga pilar, yakni unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Ketiganya perlu ditopang etos kerja profesional, penguasaan teknologi, literasi data, serta kemampuan membangun jejaring dan bekerja bersama orang lain.
Strategi 90 Hari Pertama di Dunia Kerja
Untuk membantu lulusan baru beradaptasi dengan lingkungan profesional, Anom memperkenalkan strategi 30-60-90 hari.
Pada 30 hari pertama, lulusan perlu memahami budaya organisasi, alur kerja, dan tanggung jawabnya. Memasuki 60 hari, mereka diharapkan mulai mengenali persoalan dan memberikan kontribusi. Selanjutnya, pada 90 hari, lulusan didorong mengajukan gagasan perbaikan serta mengembangkan inovasi.
Strategi tersebut menekankan pentingnya proses belajar berkelanjutan. Mahasiswa yang baru memasuki dunia kerja tidak seharusnya cepat merasa cukup dengan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, melainkan harus berani bertanya dan bersedia terlibat langsung dalam pekerjaan lapangan.
Selain kompetensi teknis, Anom mengingatkan pentingnya membangun reputasi dan memperluas jejaring profesional. Keduanya menjadi modal untuk mengembangkan karier sekaligus membuka ruang kolaborasi.
“Jangan tinggalkan hanya dengan ijazah, tapi dengan jaringan dan reputasi,” pesannya.
Ia juga menekankan prinsip jujur, tulus, dan tuntas dalam bekerja sebagai landasan membangun kepercayaan di lingkungan profesional.
“Lulus bukan akhir. Jadilah petani pengetahuan, penjaga bumi, pembawa perubahan,” pungkasnya.
Melalui kuliah tamu ini, FBiPK UB mendorong mahasiswa mempersiapkan diri secara lebih menyeluruh sebelum memasuki dunia kerja.
Lulusan diharapkan tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter, dan kemampuan berinovasi untuk menjawab tantangan pertanian berkelanjutan di Indonesia.(Djoko W)






