Diskusi Refleksi Satu Abad NU: Generasi Muda Diminta Berani Reorientasi Gerakan

Malangpariwara.com – Diskusi refleksi satu abad Nahdlatul Ulama (NU) menjadi ruang evaluasi arah gerak generasi muda NU ke depan.

Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya menggelar diskusi publik bertema Quo Vadis Generasi Muda NU? di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu (25/1/2026) malam.

Di mana diskusi ini dinilai sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu abad NU.

Diskusi tersebut menghadirkan pengamat sosial politik Universitas Brawijaya, Dr. Muzakki.

Ia adalah seseorang yang menekankan pentingnya keberanian NU dalam melakukan reorientasi gerakan, refleksi arah organisasi, serta regenerasi kepemimpinan. Khususnya di kalangan generasi muda.

“Jadi kalau mau menjawab: mau kemana generasi muda NU? Kita harus siap dengan tiga agenda besar, yang harus terus diperjuangan NU. Organisasi ini harus berani melakukan reorientasi, refleksi ulang arah gerakan dan regenerasi kepemimpinan.”

Potensi Besar NU dalam Ekonomi Politik

Menurut Muzakki, NU memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimaksimalkan, terutama dari sisi ekonomi politik.

Dengan basis massa yang luas dan jaringan lembaga hingga tingkat desa, NU dinilai memiliki modal sosial yang nyaris tak tertandingi di Indonesia.

“Apalagi dalam perspektif ekonomi politik, NU adalah organisasi dengan potensi yang nyaris tak tertandingi di Indonesia. Jaringan lembaganya luas, basis massanya besar dan pengaruh sosialnya merata hingga ke pelosok desa.”

Ia juga menyoroti besarnya potensi demografi NU, mengingat mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif dan didominasi generasi Z serta milenial yang menjadi bagian dari keluarga besar NU.

“Potensi ini, harus terus dibicarakan dan dipikirkan secara serius. Karena mereka akan menentukan wajah NU ke depan. Dan inilah yang harus kita diskusikan terus-menerus,” ujar mantan wartawan ini.

Tak Hanya Andalkan Pendidikan Formal

Namun demikian, Muzakki menegaskan NU tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan formal untuk menyiapkan kader masa depan.

Perubahan besar akibat disrupsi teknologi dinilai telah menggeser cara generasi muda belajar, bekerja, dan berorganisasi.

“Perubahan itu ikut menggeser orientasi anak muda NU. Dari dunia informal dan nonformal ke sektor formal. Seperti birokrasi dan institusi negara.”

Meski begitu, ia menilai diaspora kader NU ke berbagai sektor justru menjadi kekuatan tersendiri.

“Jadi tidak masalah kader-kader NU menjadi diaspora di berbagai bidang. Karena NU ini memang harus menjadi rumah besar bagi siapapun juga.”

Selain Dr. Muzakki, diskusi publik tersebut juga menghadirkan penulis buku Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU, Fauzan Alfas.

Dibersamai juga oleh Sekretaris PCNU Kota Batu, Gus Fathul Yasin. Diskusi dipandu oleh Pemimpin Redaksi Times Indonesia, Yatimul Ainun.

Sementara itu, inisiator Diskusi Publik Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya, Anas Muttaqin, menjelaskan bahwa forum tersebut sengaja dirancang sebagai ruang hookupultural.

Refleksi Satu Abad NU: Quo Vadis Generasi Muda NU?
Inisiator diskusi publik, Anas Muttaqin, bersama nara sumber dan peserta forum diskusi publik, yang digelar di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu (25/1/2026) malam. (Ist)

Yang mempertemukan generasi muda NU dari berbagai latar belakang tanpa sekat struktural organisasi.

“Namanya forum kultural. Jadi tidak ada ketua, tidak ada anggota, tidak ada senior atau yunior. Semuanya setara.”

Ia menyebut forum ini menjadi wadah dialog bagi pemuda NU yang telah berkiprah di berbagai sektor. Mulai dari organisasi, media, akademik, hingga pemerintahan.

“Kami hanya ingin menyediakan ruang diskusi bagi anak-anak muda NU, yang selama ini sudah berkiprah di banyak sektor. Mulai dari aktivis organisasi, jurnalis, akademisi, politisi hingga birokrasi,” ujar politisi PKB ini.

Keragaman untuk Perkaya Perspektif

Menurut Ketua Komisi C DPRD Kota Malang tersebut, keragaman latar belakang pemuda Nahdliyin justru menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif dalam membaca masa depan NU.

“Generasi muda NU itu butuh ruang dialog yang jujur, terbuka dan tanpa sekat. Agar mereka tidak tercerabut dari akar kultural dan tradisi pesantren.”

Ia menegaskan diskusi ini tidak sekadar menjadi peringatan simbolik satu abad NU.

Melainkan momentum refleksi bersama agar generasi muda NU tetap memiliki kompas moral dan ideologis di tengah dinamika zaman.

“Kita butuh masukan, kritik dan gagasan segar, tentang bagaimana seharusnya generasi NU melangkah ke depan. Dengan tetap menjadi generasi muda yang modern, tapi tidak kehilangan identitas,” pungkasnya. (Djoko W)