Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah alumninya di tingkat nasional.
Chandra Aditya Nugraha, lulusan Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum PP Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028.
Terpilihnya Chandra menjadi pemimpin organisasi mahasiswa Buddhis terbesar di Indonesia menjadi bukti bahwa lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi keberagaman mampu melahirkan pemimpin berkualitas tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan.
Bagi Chandra, jabatan yang kini diembannya bukanlah hasil yang diraih secara instan.
Ia mengaku telah melalui proses panjang sejak aktif berorganisasi pada 2015, ketika bergabung dengan HIKMAHBUDHI dan Asosiasi Kesejahteraan Sosial Jawa Timur.
“Organisasi itu prosesnya panjang. Saya memulai dari anggota, kemudian menjadi pengurus cabang, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Cabang. Setelah lulus dari UMM pada tahun 2020, saya mengabdikan diri sebagai pengurus pusat di Jakarta sambil melanjutkan studi,” ungkap Chandra kepada Humas UMM, Jumat (26/6).
Perjalanan menuju kursi kepemimpinan nasional juga tidak lepas dari berbagai dinamika. Saat mengikuti proses pencalonan pada 2024, ia dihadapkan pada berbagai perbedaan pandangan yang menguji kapasitas kepemimpinannya.
Menurutnya, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga untuk mengelola konflik secara bijaksana demi menjaga soliditas organisasi.
“Saat proses pemilihan, itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ saya belajar memanajemen konflik agar organisasi tetap solid,” katanya.
Sebagai mahasiswa beragama Buddha yang menempuh pendidikan di kampus berbasis Islam, Chandra merasakan langsung nilai-nilai toleransi yang diterapkan di UMM.
Ia menilai kampus berjuluk Kampus Putih tersebut benar-benar memberikan ruang yang sama bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang.
“Saya bangga dengan UMM. Kampus ini menerapkan nilai keberagaman secara nyata. UMM tidak mengharuskan mahasiswanya beragama Islam atau berasal dari Muhammadiyah. Semua orang bisa belajar dan berkembang bersama,” tuturnya.
Menurut Chandra, UMM merupakan miniatur Indonesia yang berhasil mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Mahasiswa dari berbagai daerah, suku, budaya, hingga agama dapat hidup berdampingan, memperoleh hak yang sama, dan saling menghormati dalam kehidupan akademik.
Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya sebagai pemimpin, terutama dalam membangun organisasi yang inklusif dan mampu merangkul seluruh anggotanya.
Di tengah tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Chandra juga mengajak mahasiswa agar tidak terjebak dalam rasa takut terhadap masa depan.
Ia menilai kekhawatiran merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh menjadi penghalang untuk terus melangkah.
“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Jadi jangan takut tentang besok akan menjadi apa. Fokuslah pada apa yang teman-teman minati dan cintai hari ini. Dari situlah jalan akan terbuka,” tegasnya.
Kisah Chandra menjadi gambaran bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang, konsistensi, serta keberanian mengambil peluang. Lingkungan pendidikan yang inklusif, dipadukan dengan semangat untuk terus belajar dan berorganisasi, menjadi bekal penting dalam mencetak pemimpin muda yang mampu berkiprah di tingkat nasional.
Keberhasilannya sekaligus mempertegas komitmen UMM sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai toleransi, keberagaman, dan kesetaraan, serta terus melahirkan lulusan yang mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa, tanpa dibatasi perbedaan latar belakang agama maupun budaya. (Djoko W)






