Empat Kali Bootcamp Digelar, MCEBI PTMA Temukan Tren Mahasiswa Beralih ke Produk Lokal dan Bisnis Halal-Thayyib

Malangpariwara.com – Empat tahun penyelenggaraan Studentpreneur Bootcamp menjadi cermin perubahan pola pikir mahasiswa dalam membangun usaha.

Jika pada awalnya mayoritas peserta mengembangkan produk yang cenderung seragam, kini muncul kecenderungan baru yang dinilai lebih menjanjikan, yakni memanfaatkan potensi pangan lokal sekaligus mengembangkan bisnis berbasis konsep halal dan thayyib.

Perubahan tersebut diungkapkan Ketua Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (MCEBI PTMA), Dr. Endang Rudiatin, M.Si., saat pembukaan Studentpreneur Bootcamp 2026 di Hall GKB IV Lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026).

Kegiatan bertema “Entrepreneurial Mindset and Business Networking, Strategi Mengelola Bisnis Berkelanjutan” itu berlangsung selama tiga hari, 17–19 Juli 2026, di UMM dan Taman Rekreasi Sengkaling.

Program tersebut mempertemukan mahasiswa pelaku usaha dari 40 Lembaga Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan PTMA bersama perwakilan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.

Pembukaan bootcamp dihadiri Menteri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., serta jajaran pimpinan PTMA.

Menurut Endang, pelaksanaan bootcamp yang kini memasuki tahun keempat memberikan gambaran nyata mengenai perkembangan kewirausahaan mahasiswa.

Meski sektor kuliner dan pangan masih mendominasi, inovasi yang dihasilkan kini jauh lebih beragam karena mulai memanfaatkan kekayaan sumber daya lokal.

“Dari empat kali penyelenggaraan bootcamp, kami melihat produk mahasiswa memang masih banyak bergerak di bidang kuliner. Namun sekarang mulai berkembang menjadi produk yang lebih kreatif dengan memanfaatkan potensi lokal seperti ubi ungu, jagung, hingga berbagai bahan pangan khas daerah. Mereka tidak lagi hanya bergantung pada tepung terigu,” ujarnya.

Ia menilai perubahan tersebut bukan sekadar inovasi produk, tetapi juga menunjukkan meningkatnya kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya mendukung ketahanan pangan nasional.

Pemanfaatan bahan baku lokal dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus membuka peluang pemberdayaan petani dan pelaku usaha daerah.

Selain tren penggunaan bahan lokal, Endang juga melihat semakin kuatnya orientasi mahasiswa terhadap bisnis yang mengedepankan prinsip halal dan thayyib.

Menurutnya, konsep tersebut kini menjadi salah satu faktor penting yang menentukan daya saing produk di tengah meningkatnya kesadaran konsumen.

“Halal saja sekarang tidak cukup. Produk juga harus thayyib, artinya sehat, aman, berkualitas, dan diproduksi secara bertanggung jawab. Konsumen semakin kritis terhadap apa yang mereka konsumsi, sehingga pelaku usaha harus mampu menjawab kebutuhan itu,” jelasnya.

Fenomena lain yang menarik perhatian MCEBI PTMA adalah dominasi mahasiswa perempuan dalam dunia usaha, khususnya pada sektor pangan dan produk kesehatan.

Endang menilai perempuan memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kualitas produk sehingga mampu menghadirkan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Perempuan memiliki kelebihan dalam membangun bisnis berbasis halal dan thayyib. Tidak hanya makanan, tetapi juga kosmetik, minuman herbal, hingga produk kesehatan. Mereka biasanya lebih teliti terhadap aspek keamanan, kualitas, dan manfaat produk,” katanya.

Ia menambahkan, kewirausahaan yang dibangun mahasiswa saat ini tidak lagi berorientasi semata-mata pada keuntungan ekonomi.

MCEBI PTMA terus mendorong lahirnya pelaku usaha muda yang mampu menciptakan bisnis berkelanjutan, memberikan dampak sosial, serta berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan bootcamp, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas bisnis, mulai dari pelatihan branding dan packaging bagi agripreneur muda, digital marketing, strategi menjadi eksportir, pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga penguatan kemampuan sebagai content creator.

Peserta juga memperoleh pendampingan langsung dari praktisi bisnis, mengikuti seminar inspiratif, kompetisi proposal usaha, penilaian video promosi, pameran produk, hingga sesi business matching.

Setiap perguruan tinggi mengirimkan dua unit usaha mahasiswa beserta seorang dosen pendamping. Dengan konsep tersebut, bootcamp tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga wadah memperluas jejaring antara mahasiswa, pelaku industri, investor, pemerintah, dan sesama entrepreneur muda.

Endang menjelaskan, MCEBI PTMA sendiri merupakan organisasi yang relatif baru di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Sebelumnya, pembinaan kewirausahaan berada di bawah Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis PTMA. Namun, berkembangnya mata kuliah kewirausahaan di hampir seluruh fakultas mendorong pengelolaannya berada di bawah Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah agar pembinaan lebih terintegrasi.

“Ini menjadi kekuatan baru bagi PTMA. Kewirausahaan tidak lagi menjadi domain Fakultas Ekonomi dan Bisnis saja, tetapi menjadi gerakan bersama lintas disiplin ilmu. Harapannya semakin banyak mahasiswa dari berbagai bidang yang mampu melahirkan inovasi dan membuka lapangan kerja,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan Studentpreneur Bootcamp 2026, MCEBI PTMA berharap lahir semakin banyak entrepreneur muda yang mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah, memperkuat ekosistem bisnis halal Indonesia, sekaligus membangun usaha yang berkelanjutan.

Sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat diyakini menjadi fondasi penting dalam mencetak wirausahawan muda yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global menuju Indonesia Emas 2045.(Djoko W)