MALANGPARIWARA.COM, MALANG – Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (Kospin) BMI Group Tangerang dinilai berhasil menghadirkan terobosan dalam pengembangan koperasi di Indonesia.
Koperasi yang berbasis di Banten itu mampu keluar dari pola pengembangan koperasi yang selama ini lazim digunakan, tanpa meninggalkan prinsip, nilai dasar, serta jati diri koperasi.
Penilaian tersebut disampaikan Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Budi Wanita (SBW) Malang, Dr. Sri Untari Bisowarno, MAP, seusai memimpin rombongan studi dan silaturahmi Kopwan SBW ke Kospin BMI Group di Tangerang.
Menurut Sri Untari, salah satu hal yang menarik dari BMI Group adalah keberanian melakukan mekanisme spin-off atau pemisahan entitas usaha.
Model tersebut dinilai berbeda dari pola umum pembentukan koperasi sekunder yang biasanya berasal dari sejumlah koperasi primer dengan jenis usaha yang relatif seragam.
“BMI Group keluar dari mainstream itu. Mereka memisah Koperasi Benteng Mikro Indonesia menjadi tiga koperasi primer, yaitu Kopsyah BMI, Kopmen BMI, dan Kopjas BMI. Dari tiga primer dengan jenis usaha berbeda ini, mereka kemudian mendirikan koperasi sekunder, yakni BMI Group,” ujar Sri Untari.
Ia menjelaskan, langkah tersebut tetap memiliki landasan hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, koperasi sekunder sekurang-kurangnya didirikan oleh tiga koperasi primer.
Regulasi tersebut tidak secara khusus mewajibkan koperasi primer yang membentuk koperasi sekunder memiliki jenis usaha yang sama.
Bagi Sri Untari, keberanian melakukan inovasi kelembagaan tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi gerakan koperasi.
Koperasi tidak harus terus berada dalam pola lama, selama setiap pengembangan tetap berpijak pada prinsip dan nilai dasar perkoperasian.
Terobosan itu pun menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam kurun waktu sekitar 13 tahun, BMI Group mampu meningkatkan aset secara pesat.
Berawal dari modal sekitar Rp80 juta, aset kelompok koperasi tersebut berkembang hingga mendekati Rp1 triliun dan bahkan sempat mencapai sekitar Rp1,3 triliun pada 2025.
Sebagian aset tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kewajiban, sekaligus mengarahkan koperasi pada penguatan kemandirian modal anggota.
“Ini sebuah exercise baru dalam dunia koperasi. Mereka membuktikan bahwa keluar dari pola lama, tetapi tetap melandaskan diri pada prinsip kejujuran, solidaritas, self-help, dan mutual help, bisa melahirkan entitas bisnis sosial yang luar biasa besar dalam waktu relatif singkat,” tegas Sri Untari.
Menurutnya, pengalaman BMI Group menjadi contoh bahwa koperasi dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang besar tanpa harus kehilangan karakter sebagai lembaga ekonomi berbasis anggota.
Bagi Kopwan SBW Malang, pembelajaran tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan koperasi untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Inovasi kelembagaan, pengembangan usaha, dan penguatan modal dapat berjalan beriringan dengan tetap menempatkan anggota sebagai pusat gerakan koperasi.
Sri Untari menilai, keberhasilan BMI Group bukan semata-mata diukur dari besarnya aset.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa prinsip koperasi tetap dapat menjadi fondasi bagi pengembangan usaha dalam skala besar.
“Yang penting bukan sekadar tumbuh besar, tetapi bagaimana pertumbuhan itu tetap membawa nilai-nilai koperasi. Di situlah jati diri koperasi harus tetap dijaga,” pungkas srikandi koperasi Jawa Timur tersebut.(Djoko W)






