FK UB Dorong Ketahanan Keluarga Digital, Ketawanggede Jadi Kampung Edukasi Pengasuhan Anak

Malangpariwara.com – Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak dan remaja, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mengambil langkah preventif melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Ketawanggede Sehat dan Tangguh melalui Edukasi Pengasuhan Anak” yang digelar di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Senin (11/5/2026).

Program ini tidak sekadar menjadi seminar parenting biasa, melainkan upaya membangun ketahanan sosial keluarga di kawasan padat penduduk yang berada di lingkungan kampus.

Ketawanggede dinilai menghadapi tantangan serius terkait pola asuh anak di era digital, mulai dari kecanduan gawai, menurunnya interaksi sosial, hingga potensi bullying dan gangguan kesehatan mental pada anak.

Melalui pendekatan edukatif berbasis komunitas, FK UB bersama Rumah Sakit Universitas Brawijaya menghadirkan ruang dialog bagi orang tua untuk memahami pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan teknologi digital.

Kegiatan diawali dengan seminar edukasi parenting yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi kesehatan jiwa anak.

Pemberian materi edukasi oleh dokter RS UB.(Ist)

Salah satu pemateri, dr. Frilya Rachma Putri, menyoroti dampak psikologis penggunaan gawai yang tidak terkontrol terhadap perkembangan emosional anak.

Menurutnya, kehadiran orang tua tidak cukup hanya sebagai pengawas, tetapi juga harus menjadi pendamping aktif dalam proses tumbuh kembang anak di era digital.

“Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping agar anak tumbuh sehat secara mental maupun sosial,” ujarnya.

Ia menjelaskan, paparan digital yang berlebihan dapat memicu perubahan perilaku, menurunkan kemampuan komunikasi interpersonal, hingga meningkatkan risiko gangguan kecemasan pada anak dan remaja. Karena itu, edukasi pengasuhan berbasis kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak di masyarakat perkotaan.

Tak hanya menyasar orang tua, kegiatan ini juga melibatkan anak-anak melalui lomba mewarnai dan menggambar yang diikuti lebih dari 15 peserta.

Aktivitas kreatif tersebut menjadi media edukatif untuk menanamkan penggunaan teknologi secara bijak sekaligus mendorong kreativitas dan budaya literasi sejak usia dini.

FK UB menilai pendekatan yang melibatkan keluarga secara menyeluruh menjadi strategi penting dalam membangun lingkungan sosial yang sehat dan suportif bagi tumbuh kembang anak.

Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diberikan pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola screen time, membangun komunikasi positif dengan anak, serta mengenali tanda-tanda awal gangguan psikososial.

Selain memperkuat edukasi kesehatan keluarga, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, layanan kesehatan, dan masyarakat.

Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan model pemberdayaan komunitas yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan sosial akibat perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.

Program “Ketawanggede Sehat dan Tangguh melalui Edukasi Pengasuhan Anak” sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin keempat mengenai pendidikan berkualitas melalui penguatan layanan edukasi kesehatan berbasis komunitas.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pola asuh digital yang sehat, FK UB berharap Ketawanggede dapat menjadi contoh lingkungan yang lebih tangguh, sehat, dan ramah bagi perkembangan anak di tengah arus transformasi digital yang terus berkembang.(Djoko W)