Malangpariwara.com – Perang masa depan tidak selalu meletus dengan dentuman senjata. Ia bisa hadir lewat narasi, hoaks, dan opini yang menggoyang kesadaran publik.
Kesadaran inilah yang dibedah puluhan mahasiswa dan pegiat diskusi bersama *Yusuf R. Hakolim, M.IPol* dalam forum Diskusi Publik bertema “Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif” di Hyde, Sabtu 7 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Yusuf R.Hakolim menyoroti “Evolusi Ancaman & Konflik Sepanjang Sejarah” hingga “Cognitive Warfare”.
Ia menegaskan konflik modern sudah bergeser dari medan tempur fisik ke ruang digital dan psikologi massa.
“Ancaman sekarang bukan cuma rudal atau tank. Tapi algoritma, konten viral, dan framing media yang bisa memecah persatuan tanpa kita sadar. Itu namanya cognitive warfare,” tegas Yusuf di hadapan peserta.
Para peserta yang mayoritas mahasiswa tampak antusias. Mereka tidak hanya mendengar, tapi aktif mencatat dan merekam jalannya diskusi lewat ponsel serta kamera tripod yang disiapkan panitia.
Suasana kafe modern dengan langit-langit kayu justru membuat diskusi geopolitik yang berat jadi lebih cair.
Yusuf menekankan, di tengah banjir informasi, kemampuan memilah dan menganalisis narasi adalah “vaksin” paling efektif melawan cognitive warfare. Generasi muda Malang, katanya, harus jadi benteng pertama.
Panitia berharap forum seperti ini rutin digelar. Tujuannya melahirkan generasi yang kritis, bukan sekadar jadi penonton di media sosial. Sebab jika pikiran bangsa sudah dijajah, maka kedaulatan fisik tinggal menunggu waktu.(Djoko W)






