Stigma Pesantren Imbas Kasus Miring, Sekretaris PCNU Kota Malang: Orang Tua Wajib Tabayun Sebelum Pilih Pesantren

Malangpariwara.com – Kasus miring di satu pesantren cukup untuk membuat stigma menyebar ke semua. Imbasnya nyata: jumlah santri menurun, kepercayaan publik goyah, dan masyarakat mudah “mengebyak rata” tanpa tabayun. Padahal belum tentu pesantren yang bermasalah itu berafiliasi ke NU.

Menyikapi hal itu, Sekretaris PCNU Kota Malang Prof. Dr. KH. Faisol Fatawi mengajak semua pihak merespons dengan kepala dingin.

Ia menegaskan, peristiwa tersebut harus jadi bahan refleksi bersama agar pondok pesantren NU makin menguatkan peran sebagai penjaga moral bangsa.

Pesan penting itu disampaikan Sekretaris PCNU Kota Malang Prof. Dr. KH. Faisol Fatawi di tengah acara Lailatul Ijtima’ Muharam 1448 H, Ahad (28/6/2026) malam. Bertempat di Kantor MWC NU Klojen, Jalan Cianjur 2-B, Kelurahan Penanggungan, Kota Malang.

“Ya tentu, kasus-kasus itu kan belum tentu juga notabenenya Pesantren NU. Tapi peristiwa ini jelas juga ada, ada mengganggu lah untuk pesantren-pesantren yang memang sejatinya Pesantren NU nggak seperti itu,” ujar Kiai Faisol, Senin (29/6/2026).

*MedSos Bikin Stigma “Gebyak Rata”*

Kiai Faisol menyoroti kecepatan media sosial yang membuat narasi negatif menyebar liar. Akibatnya, pesantren yang sejatinya menjaga akhlak dan tradisi keilmuan ikut kena imbas.

“Apalagi di medsos itu kan ya luar biasa. Tentu ini juga ada dampaknya. Nah oleh karena itu ya pertama kita harus hadapi dengan pikiran yang dingin,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mendorong pesantren NU untuk terus berbenah. Fokusnya: memperkuat sistem pengasuhan, perlindungan santri, dan mengokohkan kurikulum ahlussunnah wal jamaah.

“Pesantren itu juga semakin menguatkan bagaimana ke depannya nanti agar lebih maju dan tetap berada sebagai penjaga moral. Termasuk pesantren sebagai taman untuk mencetak generasi-generasi yang bermoral dan religius Islam,” jelasnya.

*Pesan Tegas untuk Orang Tua: Cek 3 Hal Ini*

Refleksi paling penting, kata Kiai Faisol, ada di tangan orang tua. Menitipkan anak ke pesantren bukan sekadar “biar ada yang ngurus”. Orang tua wajib aktif bertanya dan menelusuri.

“Kita menjadi orang tua itu juga harus mau bertanya. Minimal kondisi ponpesnya gitu ya, kita mau menyekolahkan, tentu kita harus mengetahui dulu tempat yang kita tuju itu seperti apa. Track record-nya? Iya, track record-nya, termasuk juga misalnya aswajanya kayak apa,” tuturnya.

Ia merinci, sebelum mendaftarkan anak, orang tua harus memastikan: rekam jejak pengasuh, manhaj/ajaran yang dipakai, dan sistem pengawasan santri sehari-hari.

“Jangan sampai sudah masuk, apalagi misalnya orang tua itu kemudian nggak mikir serius pokoknya anaknya sekolah gitu. Itu maka kita menurut saya sebagai orang NU itu tadi yang saya katakan kita punya tanggung jawab, apa punya tanggung jawab kepada diri kita dan siapapun yang ada di sekeliling,” pesannya.

*Santriwati: Mitigasi Paling Efektif dari Diri Sendiri*

Untuk santriwati, Kiai Faisol berpesan agar menguatkan benteng diri. Di tengah dinamika zaman, kesadaran menjaga kehormatan jadi tameng utama.

“Ya tentu untuk santriwati ya harus ini ya, dia harus menguatkan dirinya, ya untuk menjaga dirinya, menjaga kehormatannya. Jangan sampai dia terbujuk atau apa. Jadi harus ada cara berpikir mitigasi di dalam dirinya sendiri, karena itu cara yang paling efektif,” pungkasnya.(Djoko W)