MALANGPARIWARA.COM Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak terus diperkuat.
Kementerian Agama RI melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (GerNas RANA) mendorong pesantren dan madrasah menjadi ruang pendidikan yang terbebas dari berbagai bentuk kekerasan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Halaqoh Pesantren Ramah Anak yang digelar di Ma’had Al Qalam MAN 2 Kota Malang, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari Roadshow 22 Gerakan Nasional “Pesantrenku Aman” yang digagas melalui kolaborasi RMI PBNU, ISKA Pesantren PBNU dan RMI PCNU Kota Malang.
Halaqoh diikuti unsur pesantren anggota RMI Kota Malang, jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Malang, PCNU Kota Malang, para masyayikh, pengasuh pesantren, musyrif dan musyrifah, hingga santri putra dan putri Ma’had Al Qalam.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Ketua RMI PBNU KH Hodri Arief, Ketua Satuan Anti Kekerasan Pesantren Ning Alissa Wahid, Ketua PCNU Kota Malang Gus Isyroqun Najah Ahmad, Kepala Kantor Kemenag Kota Malang KH A. Shampton, S.H., M.Ag., Ketua RMI PCNU Kota Malang Dr. KH Halimi Zuhdi, M.Pd., serta jajaran Kemenag dan pimpinan madrasah di Kota Malang.
Ning Alissa Wahid menjadi pembicara utama dalam kegiatan yang dimoderatori Sekretaris PB RMI, Gus Ulun. Ia mengajak seluruh unsur pesantren menjadikan perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama.
“Mari kita ciptakan pesantren yang aman untuk semua. Kita jaga amanah dari keluarga santri agar pesantren benar-benar menjadi tempat melahirkan kemaslahatan dan mencetak generasi umat Islam terbaik di Indonesia,” pesannya.
Menurut Alissa, persoalan kekerasan di lingkungan pesantren tidak cukup diselesaikan setelah terjadi. Pencegahan, edukasi, sistem perlindungan, serta keterlibatan seluruh elemen pesantren dan masyarakat harus berjalan secara beriringan.
Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Gus Shampton, mengatakan GerNas RANA menjadi ruang untuk mempertemukan sekaligus memperkuat sistem yang telah dimiliki masing-masing lembaga.
“Kita kerja sama karena kita punya program namanya GerNas RANA, Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak. Ini kita kolaborasi karena masing-masing sudah punya sistem. Kita bergabung dan saling memperkuat,” ujarnya.
Ia menilai sinergi penting agar upaya perlindungan anak tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan menyatukan berbagai sistem dan sumber daya, pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren diharapkan menjadi lebih efektif.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Kota Malang H. Samsudin menyambut positif dipilihnya Ma’had Al Qalam sebagai lokasi halaqoh.
Menurutnya, program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pesantren yang memiliki jumlah santri cukup besar.
“Program nasional untuk pencegahan kekerasan di pesantren tentu membahagiakan bagi kita. Kita punya santri sekitar 700. Ini sangat membantu untuk anak-anak santri,” katanya.
Samsudin mengaku bersyukur MAN 2 Kota Malang dapat menjadi tuan rumah. Empat aula disiapkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi ruang bertukar pengalaman antara madrasah dan pesantren di Kota Malang.
“Kami sangat senang karena ini menjadi ruang berbagi dengan madrasah dan pesantren yang ada di Kota Malang. Harapannya, materi yang hari ini disampaikan beliau menjadi sesuatu yang luar biasa dan bisa memberikan penguatan,” tuturnya.
Ia menegaskan, penerapan prinsip pesantren ramah anak di MAN 2 Kota Malang sebenarnya telah dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari pelayanan pendidikan kepada para santri.
“Kalau di MAN 2 Kota Malang sendiri, pelaksanaan pesantren ramah anak sudah kami lakukan sebagai bagian yang memang tidak boleh dilepaskan dari pemberian pelayanan. Sudah kita lakukan secara bertahap. Tetapi dengan materi yang disampaikan hari ini tentu akan memberikan penguatan untuk kita,” jelas Samsudin.
Menurutnya, kehadiran GerNas RANA akan menjadi penguat bagi sistem yang telah berjalan di Ma’had Al Qalam. Komitmen tersebut juga sejalan dengan semangat “Giat Bakti MAN 2 Kota Malang untuk Pesantren”, yang menempatkan madrasah sebagai bagian dari ekosistem penguatan pendidikan pesantren.
Halaqoh ini pun menjadi momentum untuk menyamakan komitmen antara pemerintah, madrasah, pesantren dan organisasi keagamaan dalam memberikan perlindungan terbaik bagi anak.
Pesantren tidak hanya diharapkan menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang tumbuh yang aman, nyaman dan bermartabat.
Melalui GerNas RANA dan gerakan “Pesantrenku Aman”, sinergi Kemenag, RMI PBNU, RMI PCNU Kota Malang, PCNU, pesantren dan madrasah diharapkan semakin kuat.
Bagi MAN 2 Kota Malang, komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui Ma’had Al Qalam.
Pesantren ramah anak bukan sekadar program, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan lingkungan pendidikan yang mampu menjaga, mendampingi dan menghormati hak setiap santri.
Dalam kesempatan tersebut, H. Samsudin juga menyerahkan cendera mata berupa vandel kepada Ning Alissa Wahid sebagai bentuk apresiasi atas kehadirannya dalam penguatan gerakan pesantren ramah anak di Kota Malang.(Djoko W)






