Instrumen Baru LAMSAMA Jadi Tantangan, FSTeM UB Siapkan Strategi Pertahankan Predikat Unggul

Malangpariwara.com – Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya bergerak cepat menyambut penerapan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 3.1 dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Ilmu Formal (LAMSAMA).

Instrumen baru tersebut mulai diberlakukan pada 2026 dan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk mempertahankan kualitas akademiknya.

Sebagai langkah antisipasi, FSTeM UB menggelar Workshop Persiapan Dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) LAMSAMA 3.1 yang diikuti ketua program studi, pimpinan fakultas, serta unit pendukung akademik.

Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto.(Djoko W)

Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto, mengatakan perubahan instrumen akreditasi menuntut seluruh program studi memahami standar baru sejak dini agar proses persiapan berjalan lebih terarah.

“Kami sengaja menghadirkan pihak LAMSAMA agar seluruh stakeholder memiliki pemahaman yang sama terkait instrumen baru. Target kami jelas, program studi yang sudah unggul tetap mempertahankan statusnya, sementara yang belum unggul didorong untuk segera meningkat,” ujar Prof. Sukir, Jumat (19/6/2026).

Saat ini FSTeM UB memiliki 19 program studi mulai jenjang sarjana, magister hingga doktor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 program studi dijadwalkan menjalani proses akreditasi pada tahun depan.

Menurut Prof. Sukir, tantangan utama bukan sekadar memenuhi dokumen akreditasi, melainkan menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan, tata kelola, serta dokumentasi seluruh aktivitas akademik secara konsisten.

“Tantangan terbesar adalah mempertahankan kualitas tinggi secara berkelanjutan. Selain itu, aspek keterlacakan lulusan, kepuasan pengguna, dan kesiapan kerja alumni juga menjadi perhatian penting dalam penilaian,” katanya.

Meski demikian, ia optimistis FSTeM mampu beradaptasi dengan skema baru. Optimisme tersebut muncul setelah pihak fakultas mempelajari berbagai komponen penilaian yang dipaparkan dalam workshop.

Sebagai tindak lanjut, FSTeM akan melakukan pemetaan terhadap seluruh program studi berdasarkan 35 komponen penilaian yang terdapat dalam instrumen baru.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan masing-masing program studi sehingga strategi menuju akreditasi unggul dapat disusun lebih efektif.

Wakil Dekan Bidang Akademik FSTeM UB, Nurjannah.(Djoko W)

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik FSTeM UB, Nurjannah, menjelaskan bahwa IAPS 3.1 membawa perubahan cukup signifikan dibanding instrumen sebelumnya.

Jika sebelumnya penilaian banyak didukung dokumen kuantitatif dalam bentuk tabel, kini fokus lebih diarahkan pada evaluasi diri yang menggambarkan mutu program studi secara komprehensif.

“Instrumen baru ini lebih menekankan pemenuhan indikator wajib. Jadi tidak cukup hanya memperoleh nilai tinggi secara keseluruhan, tetapi sejumlah komponen tertentu harus mencapai kategori sangat baik agar bisa memperoleh status unggul,” jelasnya.

Nurjannah mengungkapkan, saat ini 17 dari 19 program studi di lingkungan FSTeM telah berstatus unggul atau sekitar 89,47 persen.

Sementara dua program studi lainnya, yakni Bioinformatika dan Sains Data, masih menunggu pemenuhan syarat administratif karena tergolong program studi baru.

Dengan persiapan lebih awal dan pengalaman panjang menghadapi berbagai akreditasi nasional maupun internasional, FSTeM UB optimistis mampu mempertahankan reputasinya sebagai salah satu fakultas sains terdepan di Indonesia.

“Kami melihat instrumen baru ini memang lebih menantang, tetapi juga menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas. Yang terpenting adalah memastikan seluruh program studi siap dan mampu memenuhi indikator yang dipersyaratkan,” pungkasnya.(Djoko W)